Kemarau di hati Mika
Aku memandang tetes demi tetes air yang
terus turun dari langit. Membentuk hujan yang deras. Menempelkan jemari –
jemariku di kaca jendela kamarku. Langit begitu mendung dan sepi. Seakan ikut
bersedih sepertiku. Mewakilkan tangisanku yang tak kunjung terurai setelah
kepergian semua orang yang kucintai.
Aku benci, harus menyambut tahun baru
dengan rasa kehilangan yang mendalam. Dalam kesepian yang menjalar.
Waktu telah menunjukkan pukul 06.00.
hari mulai petang dan semakin gelap. Aku
memeluk kedua lututku, kemudian membenamkan kepalaku diantara keduanya. Bukan
untuk menangis, justru aku belum pernah meneteskan air mataku sejak semua orang
pergi meninggalkanku.
Suara pintu yang diketuk, menyadarkanku.
“ Non, non Mika?” suara bibi yang memanggil
dari balik pintu kamarku. Aku membukakan pintu.
Aku berjalan ke arah ruang tengah dan
mendapati Tante Jane sedang duduk disana bersama suaminya om dimas.
“ Hai Mika sayang, “ seru Tante Jane sambil
berlari ke arahku lalu memelukku erat.
Aku berusaha membalas pelukannya. Kemudian
Tante Jane mengajakku duduk diantaranya dan om dimas.
“ Mika, mulai sekarang kita yang akan
ngerawat kamu yah.” Seru Om Dimas sambil membelai kepalaku lembut. Aku
tersenyum menatap mereka berdua.
Aku sungguh merasa beruntung masih mempunyai
Tante dan Om yang sangat baik seperti mereka. Ntah aku harus berlindung atau
dijaga oleh siapa kalau tidak ada mereka.
Tiba – tiba bibi datang lagi dan mengatakan
sesuatu kepada kami. Aku mengganggukkan kepala menjawabnya.
(.....)
Aku duduk di bangku yang tinggi sambil
mengayun – ngayunkan kakiku. Sebuah ice cream ada di genggaman tanganku, namun
mataku tengah menatap kosong ntah kemana.
“ Kok Ice Creamya di diemin ajah?” tanya Ray
yang datang drai belakangku. “ Udah ga suka Ice Cream lagi?” tanyanya. Sambil
memandangku.
Aku tersenyum mendengarnya.
“ Dulu waktu kita masih kecil, kamu suka
banget sama Ice Cream,” seru Ray mengingatkanku, pada masa kecilku bersamanya.
10 tahun yang lalu. “ Aku ingat, kamu suka semua rasa Ice Cream, jadi kamu gak
suka kalau disuruh harus memiliki apa rasa Ice cream favourite kamu, pasti Ice
cream yang kamu pesan tumpukan Ice Cream Vanila, Strawberry dan Coklat.”
Aku tertawa kecil mendengarnya. “ Itu, udah
lama banget yah.” Ujarku.
“ Mau main ke pasar malam? Kita naik arena
disana?” tanyanya.
“ Akhir – akhir ini, aku lagi gak suka
keramaian.” Jawabku.
“ Umur kita sekarang berapa sih?” tanya Ray
tiba – tiba.
“ 17” jawabku.
“ Kira – kira kalau akau ajak kamu main di
Taman Bermain masih mau gak yahhh?” serunya.
“ Taman, bermain?” ulangku sekali lagi, balik
bertanya.
Ray kemudian menatapku, seperti
mengitrogasiku. Ia langsung menarik tanganku.
“ Rayyy!!!” seruku. Karena, ia mulai
mengajakku berlari. Kami tiba disebuah tama bermain anak – anak yang sepi dan
hanya diterangi oleh lampu jalan yang kelabu.
Aku memandang Ray aneh. Ia kemudian berlari
menaiki sebuah jalan berjaring menuju perosotan. “ Ayoo Mik” serunya
meneriakiku.
“ Kamu serius?” Tanyaku sambil mengernyitkan
dahi, “ Ray?”
Ray meluncur dari perosatan, ketika ia sampai
di bawah ia tertawa – tetawa sendiri. “ Ayolaahh Mika, ini menyenangkan”
ajaknya sambil menarik lenganku dan mengajakku naik perosotan.
Ray meluncur lebih dahulu, lalu aku
menyusulnya. Saat aku sampai di bawah perosotan yang cukup tinggi apalagi untuk
ukuran anak – anak itu, aku terkaget – kaget. Ray melihat ekspresiku yang
sepertinya saat itu terlihat amat konyol, karena setelah itu ia menertawakanku
puas sekali.
“ Ray??’ teriaakku sebal. Sebelum aku sempat
megejarnya ia sudah berlari, sehingga kami berkejaran – kejaran di taman itu.
Menaiki perosotan, main jungkat – jungkit, memanjat dan permainan anak – anak
di taman lainnya. Untuk sesat, aku merasa aku memang masih kecil. Bebas, tanpa
ada beban dan tanggung jawab dan begitu menikmati hidup.
“ Hhhhh,,, aku capek” seru Ray, sambil
merebahkan dirinya di rerumputan, menelentangkan tubuh dan melipat kedua
lengannya dan menaruhnya di bawa kepalanya,
“ Yaampun, masa gitu saja sudah capek?”
Ledekku. Diikuti tawaan ringan. Ia membalasnya dengan senyuman namun matanya
fokus ke arah bintang di angkasa yang bersinar indah.
Aku ikut merebahkan diri di rerumputan itu,
melakukan gerakan yag sama dengan Ray.
“ Bintangnya cantik yahh?” seruku.
“ Kamu pernah berfikir
gak, kenapa bintang bisa ada disana” ujar Ray sambil menunjuk langit.
“ Teori Nebula, teori pasang surut dan
sebagainya. Aku rasa mungkin salah satu dari beberapa teori pembentukan tata
surya itu ada benarnya.” Jawabku.
“hahahha” Ray tertawa mendengarnya.
“ Kok ketawa sihh? Benar kan?” tanyaku
menoleh kearahnya seraya menghakimi.
“ Iyah, Mika kamu gak salah. Tapi sekali - kali jangan serius terus dong.” Ucapnya.
“ Okay, kalo gitu memang apa teori kamu?”
tanyaku balik.
“ Kalau kata cerita – cerita jaman dahulu
kala, bintang itu robekan kecil di langit dari surga” Ujar Ray, memulai
ceritanya denga serius.
Aku mendengarkannya penasaran.
“ Orang – orang yang
sudah berada disana” serunya sambil menunjuk ke arah langit lagi. Aku ikut
memeperhatikan arah tangannya menunjuk.
“ Mereka ingin melihat semua orang yang
disayanginya dan mengamati mereka yang masih hidup di bumi.” Jelas Ray.
Aku
memandangi bintang yang tampak paling bersinar bagiku. Membayangkan Ayah, Bunda
dan Ka Jessie sedang melihatku dari sana, aku tersenyum.
Ray menggenggam tanganku. Ia membalikan
badannya lalu menoleh ke arahku. “ Ingat, yahh aku akan selalu ada disini jadi
sahabat terbaik kamu.” Ucapnya serius.
Aku mengangguk serius. “ Makasih yah Ray”
seruku. Tepat saat itu, suara petasan terdengar meriah di antara bintang dan
gelapnya malam. Diiringi suara terompet yang memengkakkan telinga. Aku menutup
telingaku mendengarnya. Sungguh, akhir – akhir keramaian memang begitu
menggangguku.
Sejak, semua keluargaku pergi meninggalkanku
dalam sebuah kecelakaan pesawat tragis yang belum ditemukan jejak benda
bersayap buatan manusia itu. Sejak sebulan hilang contactnya. Hampir semua
orang sudah kehilangan harapan kalau keluarga mereka pasti sudah tewas.
Aku memejamkan mataku dan tanpa kusadari aku
tertidur. Hingga sebuah suara membangukanku dan menggucang – guncangkan tubuhku.
“ Mikaaa? Mikaylaa!!” suara Tante Jane mulai
terdengar jelas di telingaku. “ Bangun! Kenapa kamu tidur disini?” tanyanya. “kamu
tuh bikin tante panik ajah, pergi ke taman, malam – malam. Tante nyariin kamu
tahu gak.”
“ Maaf, maaf tante. Mika ketiduran.” Ujarku. “
Aku lagi main samaa....” aku menolehkan kepalaku ke tempat tadi Ray juga
tertidur disampingku.
“ Sama siapa?” Tanya Tante. Aku menatap Tante
bingung tanpa bersuara.
“ Ray?” Tante melambaikan tangannya di depan
wajahku. Melihatku melamun saja.
Tanpa menjawab pertanyaan sebelumya, aku
mengajukan pertanyaan lain lagi. “ Sekarang jam berapa Tante?” tanyaku.
“ Jam 2 subuh” Jawab Tante Jane. “ Ayoo kita
pulang “ Tante Jane menarik lenganku.
Aku menurut mesikipun hatiku masih dilanda
kebingungan. Dalam hati aku bertanya – tanya Apakah tadi aku bermimpi? Tetapi kenapa aku disini? Terus dimana Ray?
Beribu pertanyaan bernaum di otakku.
(......)
Cahaya matahari yang masuk diantara celah –
celah tirai kamarku, menerpa wajahku. Mataku merasa sangat silau. Aku mecoba
meraih sebuah jam wecker yang ada di meja samping tempat tidurku.
Jam menunjukkan pukul 07.00. pagi. Aku bangun
dari tempat tidurku. Setelah memebersihkan diri sedikit. Aku berlari ke bawah,
ke ruang makan. Tante Jane dan Om Dimas sudah duduk disana. Mereka memandangku
dengan wajah yang lebih cerah hari ini.
“ Pagi Mikaa, “ seru Om Dimas.
“ Pagi Tante, Om....” seruku mejawab dengan
senyuman manis.
“ Hari ini, kita harus ke bandara.” Ujar Tante
Jane.
Ntah kenapa tiba – tiba jantungku langsung
berdetak kencang.
“ Mika, “ ujar Tante Jane. Ia kemudian
melirik ke arah Om Dimas.
“ Pesawatnya sudah ditemukan Mika.” Jawab
Tante Jane dengan wajah yang tenang.
Namun aku merasa wajahku mulai pucat. Ntah apa
ini apa namanya, apakah aku mulai merasakan kesedihan? Ntah setelah mendengar
semua yang terjadi secara lebih jelas aku akan menangis? Aku sendiri bingung
dengan apa yang ada di dalam hatiku. Rasanya disana seperti ada lubang yang
semakin lama semakin besar. Terlebih hari ini, dadaku amat sesak.
“ Te...rrr...rus?” jawabku dengan suara yang
bergemetar.
Tante Jane menggapai tanganku yang berada di
meja makan, mengelusnya pelan. Membuat aku semaki kesulitan bernafas. Aku tidak
mengerti, padahal sebelumnya, aku tidak merasakan apa – apa selama sebulan ini
keuarga korban yang lain sudah menangisi kepergian keluarganya. Bahkan aku
melihat sendiri mereka menangis sampai terisak. Namun, saat itu hatiku hanya
kosong dan hampa. Tetapi, aku sama sekali tak meneteskan air mata. Tak bisa. Aku
juga tidak tahu kenapa. Bukan karena aku tidak menyayangi kedua orang tuaku dan
kakaku. Justru, aku begitu menyayanginya. Aku hanya bingung menghadapinya. Menghadapi
kenyataan yang datang mendadak di hadapanku.
Aku menunggu
setiap kata yang keluar dari mulut Tante. Ia memandangku. Aku tidak bisa
membaca ekspresi apa yang ada di wajahnya. Ia tidak terlihat kaget atau rapuh. Kemudian
ia hanya mengeluarkan secercah senyum dibibirnya. Yang membuatku bingung.
“ Mika, Ayah, Bunda dan
Ka Jessie baik – baik saja” Jelas Tante Jane akhirnya.
Aku memandang mereka setengah tak percaya
dengan pendengaranku. Namun, aku tak bisa menyembunyikan senyum bahagia yang
terpancar di wajahku.
(.....)
Aku merebahkan tubuhku di atas pangkuan kak
Jessie, di Taman Bermain. Menatap langit malam yang dihiasi bintang. Kak Jessie
membelai rambutku ringan.
“ Ray benar kak....” Ujarku tiba – tiba. “
Ray, memang udah gak ada disini. Tetapi ia selalu ada disana.” Ujarku menunjuk
bintang yang cahayanya paling menyita perhatianku.
“ Ray juga ikut bahagia kalau ngeliat kamu
bahagia.” Ujar Kak Jessie.
“ Jadi, waktu Ray cerita soal mitos itu sama
aku, bukan hanya karena ia ingin menghibur aku.” Ujarku.” Tapi karena Ray tahu,
usianya mungkin udah gak lama lagi.” Aku bangun dari baringanku dan duduk di
samping Kak Jessie memandangnya serius.
“ Mika, Ray pergi dalam kedamaian.. ia juga
meninggalka sejuta kenangan dan kebahagiaan untuk sahabatnya yang paling
berharga meski hanya dalam waktu 6 jam. Meskipun pada akhirnya penyakit Syndrom
Gulliallin berhasil merenggutnya. Setidaknya ia sudah pernah mencoba untuk melawannya.”
Ujar Kak Jessie.
“ Mika tahu. Malam itu, Ray ninggalin Mika. Karena,
ia gak mau lihat mika sedih. Makannya ia pergi diam – diam.” Ujarku.
Kak Jessie memandangku, aku tahu pandangan
itu, ia sedang menyembunyikan air matanya, tapi ia tahu adiknya sudah lebih
tegar.
“ Kak, Raya akan selalu jadi sahabat terbaik
untuk Mikayla.” Seruku sambil bersandar di pelukkan Kak Jessie.
Ketika hari kepergian Raya, aku tahu. Aku tidak
pernah menangis.
Seseorang pernah berkata, aneh kelihatanya
menafsirkan luka akan kehilangan tanpa air mata. Tetapi yang aku tahu, tak
semua kehilangan harus di tafsirkan dengan air mata. Aku kehilangan, tetapi aku
ikhlas. Karena mungkin memang seperti itu seharusnya takdir berjalan.
Bagiku, hidup bersama luka adalah bagian
dari cerita kehidupan.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar