Jumat, 02 Januari 2015

Cerpen : Kemarau di Hati Mika

                      Kemarau di hati Mika

      Aku memandang tetes demi tetes air yang terus turun dari langit. Membentuk hujan yang deras. Menempelkan jemari – jemariku di kaca jendela kamarku. Langit begitu mendung dan sepi. Seakan ikut bersedih sepertiku. Mewakilkan tangisanku yang tak kunjung terurai setelah kepergian semua orang yang kucintai.
       Aku benci, harus menyambut tahun baru dengan rasa kehilangan yang mendalam. Dalam kesepian yang menjalar.
       Waktu telah menunjukkan pukul 06.00. hari mulai petang dan  semakin gelap. Aku memeluk kedua lututku, kemudian membenamkan kepalaku diantara keduanya. Bukan untuk menangis, justru aku belum pernah meneteskan air mataku sejak semua orang pergi meninggalkanku.
       Suara pintu yang diketuk, menyadarkanku.
   “ Non, non Mika?” suara bibi yang memanggil dari balik pintu kamarku. Aku membukakan pintu.
     Aku berjalan ke arah ruang tengah dan mendapati Tante Jane sedang duduk disana bersama suaminya om dimas.
  “ Hai Mika sayang, “ seru Tante Jane sambil berlari ke arahku lalu memelukku erat.
  Aku berusaha membalas pelukannya. Kemudian Tante Jane mengajakku duduk diantaranya dan om dimas.
  “ Mika, mulai sekarang kita yang akan ngerawat kamu yah.” Seru Om Dimas sambil membelai kepalaku lembut. Aku tersenyum menatap mereka berdua.
   Aku sungguh merasa beruntung masih mempunyai Tante dan Om yang sangat baik seperti mereka. Ntah aku harus berlindung atau dijaga oleh siapa kalau tidak ada mereka.
   Tiba – tiba bibi datang lagi dan mengatakan sesuatu kepada kami. Aku mengganggukkan kepala menjawabnya.
                                   
                                           (.....)
   Aku duduk di bangku yang tinggi sambil mengayun – ngayunkan kakiku. Sebuah ice cream ada di genggaman tanganku, namun mataku tengah menatap kosong ntah kemana.
   “ Kok Ice Creamya di diemin ajah?” tanya Ray yang datang drai belakangku. “ Udah ga suka Ice Cream lagi?” tanyanya. Sambil memandangku.
   Aku tersenyum mendengarnya.
  “ Dulu waktu kita masih kecil, kamu suka banget sama Ice Cream,” seru Ray mengingatkanku, pada masa kecilku bersamanya. 10 tahun yang lalu. “ Aku ingat, kamu suka semua rasa Ice Cream, jadi kamu gak suka kalau disuruh harus memiliki apa rasa Ice cream favourite kamu, pasti Ice cream yang kamu pesan tumpukan Ice Cream Vanila, Strawberry dan Coklat.”
  Aku tertawa kecil mendengarnya. “ Itu, udah lama banget yah.” Ujarku.
  “ Mau main ke pasar malam? Kita naik arena disana?” tanyanya.
  “ Akhir – akhir ini, aku lagi gak suka keramaian.” Jawabku.

 “ Umur kita sekarang berapa sih?” tanya Ray tiba – tiba.
 “ 17” jawabku.
 “ Kira – kira kalau akau ajak kamu main di Taman Bermain masih mau gak yahhh?” serunya.
 “ Taman, bermain?” ulangku sekali lagi, balik bertanya.
 Ray kemudian menatapku, seperti mengitrogasiku. Ia langsung menarik tanganku.
 “ Rayyy!!!” seruku. Karena, ia mulai mengajakku berlari. Kami tiba disebuah tama bermain anak – anak yang sepi dan hanya diterangi oleh lampu jalan yang kelabu.
 Aku memandang Ray aneh. Ia kemudian berlari menaiki sebuah jalan berjaring menuju perosotan. “ Ayoo Mik” serunya meneriakiku.
  “ Kamu serius?” Tanyaku sambil mengernyitkan dahi, “ Ray?”
  Ray meluncur dari perosatan, ketika ia sampai di bawah ia tertawa – tetawa sendiri. “ Ayolaahh Mika, ini menyenangkan” ajaknya sambil menarik lenganku dan mengajakku naik perosotan.
  Ray meluncur lebih dahulu, lalu aku menyusulnya. Saat aku sampai di bawah perosotan yang cukup tinggi apalagi untuk ukuran anak – anak itu, aku terkaget – kaget. Ray melihat ekspresiku yang sepertinya saat itu terlihat amat konyol, karena setelah itu ia menertawakanku puas sekali.
  “ Ray??’ teriaakku sebal. Sebelum aku sempat megejarnya ia sudah berlari, sehingga kami berkejaran – kejaran di taman itu. Menaiki perosotan, main jungkat – jungkit, memanjat dan permainan anak – anak di taman lainnya. Untuk sesat, aku merasa aku memang masih kecil. Bebas, tanpa ada beban dan tanggung jawab dan begitu menikmati hidup.
  “ Hhhhh,,, aku capek” seru Ray, sambil merebahkan dirinya di rerumputan, menelentangkan tubuh dan melipat kedua lengannya dan menaruhnya di bawa kepalanya,
 “ Yaampun, masa gitu saja sudah capek?” Ledekku. Diikuti tawaan ringan. Ia membalasnya dengan senyuman namun matanya fokus ke arah bintang di angkasa yang bersinar indah.
  Aku ikut merebahkan diri di rerumputan itu, melakukan gerakan yag sama dengan Ray.
  “ Bintangnya cantik yahh?” seruku.
“ Kamu pernah berfikir gak, kenapa bintang bisa ada disana” ujar Ray sambil menunjuk langit.
  “ Teori Nebula, teori pasang surut dan sebagainya. Aku rasa mungkin salah satu dari beberapa teori pembentukan tata surya itu ada benarnya.” Jawabku.
  “hahahha” Ray tertawa mendengarnya.
  “ Kok ketawa sihh? Benar kan?” tanyaku menoleh kearahnya seraya menghakimi.
  “ Iyah, Mika kamu gak salah. Tapi sekali  - kali jangan serius terus dong.” Ucapnya.
  “ Okay, kalo gitu memang apa teori kamu?” tanyaku balik.
  “ Kalau kata cerita – cerita jaman dahulu kala, bintang itu robekan kecil di langit dari surga” Ujar Ray, memulai ceritanya denga serius.
  Aku mendengarkannya penasaran.
“ Orang – orang yang sudah berada disana” serunya sambil menunjuk ke arah langit lagi. Aku ikut memeperhatikan arah tangannya menunjuk.
 “ Mereka ingin melihat semua orang yang disayanginya dan mengamati mereka yang masih hidup di bumi.” Jelas Ray.
   Aku memandangi bintang yang tampak paling bersinar bagiku. Membayangkan Ayah, Bunda dan Ka Jessie sedang melihatku dari sana, aku tersenyum.
  Ray menggenggam tanganku. Ia membalikan badannya lalu menoleh ke arahku. “ Ingat, yahh aku akan selalu ada disini jadi sahabat terbaik kamu.” Ucapnya serius.
  Aku mengangguk serius. “ Makasih yah Ray” seruku. Tepat saat itu, suara petasan terdengar meriah di antara bintang dan gelapnya malam. Diiringi suara terompet yang memengkakkan telinga. Aku menutup telingaku mendengarnya. Sungguh, akhir – akhir keramaian memang begitu menggangguku.
  Sejak, semua keluargaku pergi meninggalkanku dalam sebuah kecelakaan pesawat tragis yang belum ditemukan jejak benda bersayap buatan manusia itu. Sejak sebulan hilang contactnya. Hampir semua orang sudah kehilangan harapan kalau keluarga mereka pasti sudah tewas.
   Aku memejamkan mataku dan tanpa kusadari aku tertidur. Hingga sebuah suara membangukanku dan menggucang – guncangkan tubuhku.
  “ Mikaaa? Mikaylaa!!” suara Tante Jane mulai terdengar jelas di telingaku. “ Bangun! Kenapa kamu tidur disini?” tanyanya. “kamu tuh bikin tante panik ajah, pergi ke taman, malam – malam. Tante nyariin kamu tahu gak.”
  “ Maaf, maaf tante. Mika ketiduran.” Ujarku. “ Aku lagi main samaa....” aku menolehkan kepalaku ke tempat tadi Ray juga tertidur disampingku.
  “ Sama siapa?” Tanya Tante. Aku menatap Tante bingung tanpa bersuara.
  “ Ray?” Tante melambaikan tangannya di depan wajahku. Melihatku melamun saja.
 Tanpa menjawab pertanyaan sebelumya, aku mengajukan pertanyaan lain lagi. “ Sekarang jam berapa Tante?” tanyaku.
  “ Jam 2 subuh” Jawab Tante Jane. “ Ayoo kita pulang “ Tante Jane menarik lenganku.
  Aku menurut mesikipun hatiku masih dilanda kebingungan. Dalam hati aku bertanya – tanya Apakah tadi aku bermimpi? Tetapi kenapa aku disini? Terus dimana Ray? Beribu pertanyaan bernaum di otakku.

                                      (......)
    Cahaya matahari yang masuk diantara celah – celah tirai kamarku, menerpa wajahku. Mataku merasa sangat silau. Aku mecoba meraih sebuah jam wecker yang ada di meja samping tempat tidurku.
    Jam menunjukkan pukul 07.00. pagi. Aku bangun dari tempat tidurku. Setelah memebersihkan diri sedikit. Aku berlari ke bawah, ke ruang makan. Tante Jane dan Om Dimas sudah duduk disana. Mereka memandangku dengan wajah yang lebih cerah hari ini.
   “ Pagi Mikaa, “ seru Om Dimas.
   “ Pagi Tante, Om....” seruku mejawab dengan senyuman manis.
   “ Hari ini, kita harus ke bandara.” Ujar Tante Jane.
   Ntah kenapa tiba – tiba jantungku langsung berdetak kencang.
   “ Mika, “ ujar Tante Jane. Ia kemudian melirik ke arah Om Dimas.
  “ Pesawatnya sudah ditemukan Mika.” Jawab Tante Jane dengan wajah yang tenang.
   Namun aku merasa wajahku mulai pucat. Ntah apa ini apa namanya, apakah aku mulai merasakan kesedihan? Ntah setelah mendengar semua yang terjadi secara lebih jelas aku akan menangis? Aku sendiri bingung dengan apa yang ada di dalam hatiku. Rasanya disana seperti ada lubang yang semakin lama semakin besar. Terlebih hari ini, dadaku amat sesak.
   “ Te...rrr...rus?” jawabku dengan suara yang bergemetar.
   Tante Jane menggapai tanganku yang berada di meja makan, mengelusnya pelan. Membuat aku semaki kesulitan bernafas. Aku tidak mengerti, padahal sebelumnya, aku tidak merasakan apa – apa selama sebulan ini keuarga korban yang lain sudah menangisi kepergian keluarganya. Bahkan aku melihat sendiri mereka menangis sampai terisak. Namun, saat itu hatiku hanya kosong dan hampa. Tetapi, aku sama sekali tak meneteskan air mata. Tak bisa. Aku juga tidak tahu kenapa. Bukan karena aku tidak menyayangi kedua orang tuaku dan kakaku. Justru, aku begitu menyayanginya. Aku hanya bingung menghadapinya. Menghadapi kenyataan yang datang mendadak di hadapanku.
   Aku menunggu setiap kata yang keluar dari mulut Tante. Ia memandangku. Aku tidak bisa membaca ekspresi apa yang ada di wajahnya. Ia tidak terlihat kaget atau rapuh. Kemudian ia hanya mengeluarkan secercah senyum dibibirnya. Yang membuatku bingung.
“ Mika, Ayah, Bunda dan Ka Jessie baik – baik saja” Jelas Tante Jane akhirnya.
   Aku memandang mereka setengah tak percaya dengan pendengaranku. Namun, aku tak bisa menyembunyikan senyum bahagia yang terpancar di wajahku.
                                        (.....)
   Aku merebahkan tubuhku di atas pangkuan kak Jessie, di Taman Bermain. Menatap langit malam yang dihiasi bintang. Kak Jessie membelai rambutku ringan.
   “ Ray benar kak....” Ujarku tiba – tiba. “ Ray, memang udah gak ada disini. Tetapi ia selalu ada disana.” Ujarku menunjuk bintang yang cahayanya paling menyita perhatianku.
   “ Ray juga ikut bahagia kalau ngeliat kamu bahagia.” Ujar Kak Jessie.
   “ Jadi, waktu Ray cerita soal mitos itu sama aku, bukan hanya karena ia ingin menghibur aku.” Ujarku.” Tapi karena Ray tahu, usianya mungkin udah gak lama lagi.” Aku bangun dari baringanku dan duduk di samping Kak Jessie memandangnya serius.
   “ Mika, Ray pergi dalam kedamaian.. ia juga meninggalka sejuta kenangan dan kebahagiaan untuk sahabatnya yang paling berharga meski hanya dalam waktu 6 jam. Meskipun pada akhirnya penyakit Syndrom Gulliallin berhasil merenggutnya. Setidaknya ia sudah pernah mencoba untuk melawannya.” Ujar Kak Jessie.
   “ Mika tahu. Malam itu, Ray ninggalin Mika. Karena, ia gak mau lihat mika sedih. Makannya ia pergi diam – diam.” Ujarku.
   Kak Jessie memandangku, aku tahu pandangan itu, ia sedang menyembunyikan air matanya, tapi ia tahu adiknya sudah lebih tegar.
   “ Kak, Raya akan selalu jadi sahabat terbaik untuk Mikayla.” Seruku sambil bersandar di pelukkan Kak Jessie.
     Ketika hari kepergian Raya, aku tahu. Aku tidak pernah menangis.
     Seseorang pernah berkata, aneh kelihatanya menafsirkan luka akan kehilangan tanpa air mata. Tetapi yang aku tahu, tak semua kehilangan harus di tafsirkan dengan air mata. Aku kehilangan, tetapi aku ikhlas. Karena mungkin memang seperti itu seharusnya takdir berjalan.
     Bagiku, hidup bersama luka adalah bagian dari cerita kehidupan.
                                         TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar