Judul Buku: Sepatu Dahlan
Penulis: Khrisna
Pabichara
Penerbit: Noura Books (PT
Mizan Publica)
Cetakan: XII, Maret 2014
Tebal: 369 halaman
“Hidup, bagi orang miskin, harus dijalani
apa adanya” begitu kata Dahlan Iskan. Kemudian lahirlah dari sana sebuah karya
yang diberi judul “Sepatu Dahlan”.
‘ Sastra. adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang
objeknya adalah manusia dan kehidupannya menggunakan bahasa sebagai mediumnya’ Itulah arti sastra menurut salah
satu ahli sastra, Semi.
Begitu pula seorang Khrisna Pabichara seorang
sastrawan muda berbakat dan telah menerbitkan 13 novel lainnya, yang berhasil menyuguhkan
karya tulis lewat novel ke 14nya dalam novel ini. Tak perlu banyak kiasan,
majas ataupun kata – kata berkelok – kelok. Pemaparan yang sederhana namun
‘mengena’ telah mewakili betapa nikmatnya membaca buku ini.
Disampaikan dalam bentuk plot sederhana
pula, dimulai ketika seorang Dahlan Iskan hendak memulai operasi livernya pada
tahun 2007 dan diikuti masa – masa pembiusannya yang kemudian Sang penulis
sebutkan sebagai ’18 jam Kematian’ mengantarkan sosok Dahlan ke dalam masa
kecilnya yang suram. Kemudian, di mulailah petualangan Dahlan kecil hidup di
tengah kemiskinan namun tetap berjuang untuk terus bertahan hidup dan tetap
memiliki mimpi.
Pada
dasarnya membaca sebuah novel yang di angkat dari kisah nyata,seringkali
dianggap menarik. Berbeda dengan novel – novel fiksi yang menawarkan tokoh –
tokoh imajinasi yang pada kenyataannya hanya berjalan di pikran Sang Penulis.
Novel yang ditulis langsung dari kisah hidup seseorang biasanya akan terasa
lebih hidup. Layaknya buku ini, seorang penulis sastra serius Khrisna Pabichara
berhasil menarik para pembaca ke dalam dunia masa kecil dari seorang Menteri
bernama Dahlan Iskan secara kronologis, dengan plot yang mengalir lembut, namun
setiap detailnya mampu di rasakan sensasinya. Bukan kemamuannya lahir di tengah
keluarga miskin.Namun, bukan karena itu lantas dahlan kecil menyerah, berbagai cara
ia lakoni untuk mendapatkan impian terbesarnya saat itu: sepasang sepatu dan
sebuah sepeda.
Sang penulis yang merupakan penyuka prosa
ini, telah menggiring pembaca memasuki alur cerita dan ikut merasakan betapa
kesedihan sudah menjadi teman bagi Dahlan kecil dan kelaparan adalah sahabat
setianya. Mengajak pembaca ikut berjalan di atas aspal panas, kadang kerikil,
tanah, becek, lumpur dan mala petaka lainnya saat dahlan harus berjalan tanpa
beralaskan apapun di kakinya sejauh berkilo – kilo meter dari rumah hingga
sekolahnya dalam perjuangannya untuk mengais ilmu. Lalu kesedihan satu persatu
datang menghampiri, ketika keinginannya untuk melanjutkan sekolah di SMP
impiannya namun di tentang oleh bapaknya.Lalu Ibunya yang sakit lalu meninggal
ketika Dahlan masih kelas 1 SMP, kakak perempuan tertuanya yang memutuskan
untuk merantau ke seberang pulau, konflik dalam persahabatannya, hingga
akhirnya perjuangannya mangais rezeki mengajar bermain bola voli
mengantarkannya pada sepasang sepatu impiannya dan sebuah sepeda. Kemudian
disaat ia dilanda kebingungan atas pesyaratan bersama gadis pujaannya yang
mengharuskan Dahlan menjadi sarjana.
Khrisna berhasil memaparkan sebuah kisah
nyata secara sempurna melalui kata – kata yang menghinotis namun tetap lugas
dan tegas. Menampilkan kisahnya secara teratur dan sesuai namun tak
mengindahkan unsur – unsur sastra yang tetap menjadi bumbu – bumbu manis
tersendiri. Tanpa unsur membosankan dan sedemikian rupa tetap menunjukan alur
naik turunnya yang mengayun – ngayun seakan ingin cepat – cepat menamatkan
bukunya. Sedangkan karakter tokohnya disampaikan dengan ketelitian dan kuat.
Seperti tokoh Kadir yang tak banyak bicara dan perasa ( akibat masa lalu
tentang keluarganya), tokoh Imran yang gigih berlatih dan jahil atau tokoh
Komariyah yang memiliki hobi bermain, permainan laki – laki.
Memang bagi seorang sastrwan muda layaknya
Khrisna Pabichara yang memang sebelumnya telah melahirkan karya – karya bermutu
lainnya, rasanya tidak janggal bahwa ia bisa begitu apik menyampaikan unsur
kesusastraan,plot,karakter tokoh yang kuat secara sederhana dan apa adanya
namun tetap berkualitas.
Namun
juga tetap meninggalkan bekas inspiratif dan membuka mata,pikiran dan hati
siapapun yang membacanya. Dahlan kecil, yang mula – mulanya pernah nekat
mencuri tebu demi mengisi perut keroncongan adiknya, telah belajar bahwa
sebagai manusia boleh saja kita miskin harta, tetapi jangan pernah miskin iman.
Disinilah sang penulis menghadirkan nilai moral yang sekaligus dibungkus oleh
nilai religius yang pesan gandanya tersebut dapat di petik oleh pembaca. Maka
secara tak langsung penulis telah berhasil menyampaikan visinya dalam buku
tersebut: Memberikan pembelajaran moral berupa kehormatan untuk mendapatkan
harta.
Sangat tepat disampaikan di tengah zaman
yang sudah menjadi tempat menggilanya para Koruptor. Teguran manis juga
disediakan oleh Khrisna tentang bagaimana Dahlan kecil tetap bersyukur
menikmati kehidupannya. Seperti yang ia katakan “ Bagi kami kemiskinan adalah
kesenangan.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar