Senin, 13 Oktober 2014

Resensi Novel : Sepatu Dahlan



Judul Buku: Sepatu Dahlan
Penulis: Khrisna Pabichara
Penerbit: Noura Books (PT Mizan Publica)
Cetakan: XII, Maret 2014
Tebal: 369 halaman

     “Hidup, bagi orang miskin, harus dijalani apa adanya” begitu kata Dahlan Iskan. Kemudian lahirlah dari sana sebuah karya yang diberi judul “Sepatu Dahlan”.
    ‘ Sastra. adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya menggunakan bahasa sebagai mediumnya’ Itulah arti sastra menurut salah satu ahli sastra, Semi.
     Begitu pula seorang Khrisna Pabichara seorang sastrawan muda berbakat dan telah menerbitkan 13 novel lainnya, yang berhasil menyuguhkan karya tulis lewat novel ke 14nya dalam novel ini. Tak perlu banyak kiasan, majas ataupun kata – kata berkelok – kelok. Pemaparan yang sederhana namun ‘mengena’ telah mewakili betapa nikmatnya membaca buku ini.
    Disampaikan dalam bentuk plot sederhana pula, dimulai ketika seorang Dahlan Iskan hendak memulai operasi livernya pada tahun 2007 dan diikuti masa – masa pembiusannya yang kemudian Sang penulis sebutkan sebagai ’18 jam Kematian’ mengantarkan sosok Dahlan ke dalam masa kecilnya yang suram. Kemudian, di mulailah petualangan Dahlan kecil hidup di tengah kemiskinan namun tetap berjuang untuk terus bertahan hidup dan tetap memiliki mimpi.
     Pada dasarnya membaca sebuah novel yang di angkat dari kisah nyata,seringkali dianggap menarik. Berbeda dengan novel – novel fiksi yang menawarkan tokoh – tokoh imajinasi yang pada kenyataannya hanya berjalan di pikran Sang Penulis. Novel yang ditulis langsung dari kisah hidup seseorang biasanya akan terasa lebih hidup. Layaknya buku ini, seorang penulis sastra serius Khrisna Pabichara berhasil menarik para pembaca ke dalam dunia masa kecil dari seorang Menteri bernama Dahlan Iskan secara kronologis, dengan plot yang mengalir lembut, namun setiap detailnya mampu di rasakan sensasinya. Bukan kemamuannya lahir di tengah keluarga miskin.Namun, bukan karena itu lantas dahlan kecil menyerah, berbagai cara ia lakoni untuk mendapatkan impian terbesarnya saat itu: sepasang sepatu dan sebuah sepeda.
     Sang penulis yang merupakan penyuka prosa ini, telah menggiring pembaca memasuki alur cerita dan ikut merasakan betapa kesedihan sudah menjadi teman bagi Dahlan kecil dan kelaparan adalah sahabat setianya. Mengajak pembaca ikut berjalan di atas aspal panas, kadang kerikil, tanah, becek, lumpur dan mala petaka lainnya saat dahlan harus berjalan tanpa beralaskan apapun di kakinya sejauh berkilo – kilo meter dari rumah hingga sekolahnya dalam perjuangannya untuk mengais ilmu. Lalu kesedihan satu persatu datang menghampiri, ketika keinginannya untuk melanjutkan sekolah di SMP impiannya namun di tentang oleh bapaknya.Lalu Ibunya yang sakit lalu meninggal ketika Dahlan masih kelas 1 SMP, kakak perempuan tertuanya yang memutuskan untuk merantau ke seberang pulau, konflik dalam persahabatannya, hingga akhirnya perjuangannya mangais rezeki mengajar bermain bola voli mengantarkannya pada sepasang sepatu impiannya dan sebuah sepeda. Kemudian disaat ia dilanda kebingungan atas pesyaratan bersama gadis pujaannya yang mengharuskan Dahlan menjadi sarjana.
    Khrisna berhasil memaparkan sebuah kisah nyata secara sempurna melalui kata – kata yang menghinotis namun tetap lugas dan tegas. Menampilkan kisahnya secara teratur dan sesuai namun tak mengindahkan unsur – unsur sastra yang tetap menjadi bumbu – bumbu manis tersendiri. Tanpa unsur membosankan dan sedemikian rupa tetap menunjukan alur naik turunnya yang mengayun – ngayun seakan ingin cepat – cepat menamatkan bukunya. Sedangkan karakter tokohnya disampaikan dengan ketelitian dan kuat. Seperti tokoh Kadir yang tak banyak bicara dan perasa ( akibat masa lalu tentang keluarganya), tokoh Imran yang gigih berlatih dan jahil atau tokoh Komariyah yang memiliki hobi bermain, permainan laki – laki.
    Memang bagi seorang sastrwan muda layaknya Khrisna Pabichara yang memang sebelumnya telah melahirkan karya – karya bermutu lainnya, rasanya tidak janggal bahwa ia bisa begitu apik menyampaikan unsur kesusastraan,plot,karakter tokoh yang kuat secara sederhana dan apa adanya namun tetap berkualitas.
   Namun juga tetap meninggalkan bekas inspiratif dan membuka mata,pikiran dan hati siapapun yang membacanya. Dahlan kecil, yang mula – mulanya pernah nekat mencuri tebu demi mengisi perut keroncongan adiknya, telah belajar bahwa sebagai manusia boleh saja kita miskin harta, tetapi jangan pernah miskin iman. Disinilah sang penulis menghadirkan nilai moral yang sekaligus dibungkus oleh nilai religius yang pesan gandanya tersebut dapat di petik oleh pembaca. Maka secara tak langsung penulis telah berhasil menyampaikan visinya dalam buku tersebut: Memberikan pembelajaran moral berupa kehormatan untuk mendapatkan harta.

    Sangat tepat disampaikan di tengah zaman yang sudah menjadi tempat menggilanya para Koruptor. Teguran manis juga disediakan oleh Khrisna tentang bagaimana Dahlan kecil tetap bersyukur menikmati kehidupannya. Seperti yang ia katakan “ Bagi kami kemiskinan adalah kesenangan.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar