terngiang dikepala zevana bagaimana suara si cewe cerewet itu menggelitik telinganya melalui telepon seluler tadi siang seusai pulang sekolah.
Part 2:
"Hai gadis manja yang gak punya mata! eh salah. Gak punya telinga juga kali yahh?
Gw Aren,sohib kentalnya Shilla. Eh gw kasih tau yah, jd cwe tuh jangan so cantik! mentang2
lo tuh kapten Chearleader sekolah kita. Lo tuh dibanding Shilla ga ada apa - apanya! Embe sama kuda.. Beda!!
Shilla itu jauh lebih pinter Lo! dan bedanya tuh jauhh banget 1 - 1000!
dan Gw peringatin lo gak usah deket - deket Gabriel! gabriel itu cuma punya Shilla! dia itu deketin cuma gara - gara
kelompok mulok.Diakan paling gak suka kalau disuruh observasi model. Makannya dia manfaatin lo! Minggat lo sana dari kehidupan shilla dan Gabriel! urusin tuh keluarga lo yang udah di ujung taduk! bener2 ancur!
Daaaah!!.....Jelekk...!
klik.....tut..tut...
Sumpah sebel banget sama cewe yang gak tau adat dan tata krama itu. Telepon gak pake salam, ngomong gak pake titik koma.
Sepertinya Zevanna sudah benar - benar naik pitam. Dan koran - koran dirumahlah yang jadi saksi bisunya kalau darahnya sedang
mendidih.
"Bunda Zeva boleh keluar sebentar?"
"Mau kemana sayang?"
"Cari cokelat. Zeva lagi pingin banget makan cokelat."
"Iyah, jangan lama - lama yahh. Cuma cari cokelat ajahkan?"
"Sama cari angin, Bunda. Ngak tau deh tuh nyari dimana. Angin yang udah dibungkus rapi trus dikasih pita warna pink.
Zeva gak akan pulang sampai nemu angin kayak gitu.
"Mulai deh, anak Bunda yang satu ini ngaco. Lagi ada maslah sayang?"
Zevanna menggeleng.
Namun seakan Bunda mengerti keadaan anaknya.
Dia mengizinkan anaknya pulang.
(...)
Bunda memang orang yang palin peka kepadaku. Pikir Zeva dalam hati, ketika berjalan menuju toko cokelat.
Tidak seperti ayah?? ah kenapa sosok laki - laki itu muncul kembali dipikiranaku? dan kenapa Ozy lebih memilihnya, Ayah? dibandingkan Bunda? aku tidak mau membenci adikku sendiri, Ozy. Tapi semuanya sudah terlanjut. Ucap Zeva dalam hati. Pahit rasanya.
Itulah yang menyebabkan hubungan Ozy dan Zevanna tidak sedekat dulu lagi.
Orang tua mereka yang sudah pisah rumah. Dan kini? mungkin dalam tahap perceraian.
Walau mereka masih tinggal dalam satu kota. Tapi keluarga mereka sudah diujung tanduk. Ancur!!
Seperti kata si cewe cerewet Aren tadi.
(...)
Gerimis mempercepat langkah Ozy. Ia terpaksa menerobos tirai air itu. Meski membutanya basah, Namun karena cuaca tidak kunjung menunjukan tanda - tanda akan menjadi cerah. Tapi ayahnya dirumah sudah menyuruhnya untuk pulang cepat. Sesampainya dirumah, dia benar - benar basah kuyup. Dan Ayah membukakan pintu.
"Ozyyy!!!!!!!! kamu ko basah - basahan begini!"
"Bukannya Ayah? yang nyuruh Ozy pulang cepat?"
"Iyah, tapi tunggu sampai hujannya reda dulu." jelas ayahnya Ozy sambil memberikan handuk kepada Ozy.
" Yawudah, maafin Ozy yah Ayah. Udah bikin Ozy khawatir." Ujar ozy merasa bersalah menatap ayahnya yang sedang menghandukinya.
"Yasudah nak, tidak apa - apa. Lebih baik kamu istirahat dulu sana."
Ozy mengangguk, lalu berlari keatas menuju kamarnya.
(...)
Ozy melepas ranselnya. Lalu melemparnya ke sembarang tempat.
Setelah itu iyah menghempaskan tubuhnya diata ranjang empuknya. Terlintas dipikirannya sesosok gadi yang ia kenal di toko angin .... eh toko cokelat tadi. gadis itu, Zevanna kakanya. Yang dulu selalu menemaninya mengerjakan PR, bersenda gurau,Bermain pokoknya semua aktivitasnya.
Tiba - tiba Ozy terbawa ke masa lalu...
saat kedua orang tuannya masih tinggal serumah dulu. Dia merindukan saat - saat itu. Dia merindukan Bunda dan dia merindukan Ka Zeva.
Dia ingat tadi pagi ka Zeva ikut tertawa karena leluconnya di Bus. Dia merindukan tawa kakanya itu. Tawa yang selau ia bilang seperti Nenek lampir. Dan Ka Zeva biasanya akn memukulnya dengan koran kesukaan yang dia sedang baca. Ozy tertawa pedih mengingat itu.
Dan ia mulai menyesali kata - kata yang terkhir kali ia ucapkan pada Bundanya. Kata - kata yang membuat Bunda sakit hati, dan Ka Zeva benci padanya. Dan membuatnya Harus tinggal bersama Ayah. Ingin rasanya ia berkata bahwa kata - kat yang terdapat dalam surat itu tidak ditunjukan untuk Bunda. Karna sebnenarnya dia tidak membela ayah, maupun Ibu, bagi dia ini semua hanya kesalah pahaman. Namun semunya percuma, Ozy tidak punya keberanian untuk itu.
" Ya Allah kenapa semuanya harus seperti ini?" Ucapnya pahit. "Aku mau kehidupanku yang dulu."
Tanpa ia sadari air matanya mulai menggenang dipelupuk matanya, dan akhirnya jatuh membasahi pipinya. Dia berusaha menghentikan tangisnya, namun tidak bisa. Karena kini ia sangat menyesal, benar - benar menyesal.
(...)
Pukul 12 siang lewat sekian menit. Panas terik memayungi kota jakarta seperti biasa. Matahari sepertinya persis diatas kepala. Sivia merapikan mejanya. Mengumpulkan buku - buku yang berserakan di mejanya. Semua harus dimasukan kedalam tasnya. Jangan sampai ada yang tertinggal sebab, bila sampai ada yang tertinggal, tidak da harapan untuk menemukannya kembali.
"Rio..." Bisik Zahra yang berada disebelah Via.
Mau tak mau perhatian Via beralih. Perlahan - lahan ia memutar kepalanya, persis ketika Zahra menoleh kearah pintu .
Dan....
Bersambung....
Selesia sudah Part 2..
oh ya maaf buat Lia Shillaa belum muncul disini gak tau tuh kemana?? lagi ke pasr kali!! hahahha.. Kidding..nanti dia muncul ko di part 3: Zeva VS Shilla....
tunggu yahhh!!
Kritik dan saran selalu dinanti..
Thanks..
"Cheers"
-Alsa-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar