Rabu, 25 Maret 2015

Mengejar Mimpi bersama Sahabat Kecil

     

      Tak banyak kata yang dapat terucap. Ketika Samsung Galaxy Note Edge berada di genggaman tangan. Sebut saja dia Sahabat Kecil. Begitulah saya akan memanggilmya. Kenapa saya sebut dia sebagai sahabat? Seperti yang diketahui, seorang sahabat yang baik itu, harus selalu ada di kala suka dan duka, setia,mejadi tempat berbagi dan selalu memberi dukungan dalam setiap langkah hidup seseorang. Seperti itulah yang dilakukan oleh Samsung Galaxy Edge ketika ia hadir dalam hidup saya. Dunia yang saya tahu menjadi lebih luas dan indah. Karena begitu banyak hal yang ingin saya realisasikan jikalau saya memilikinya.Lalu bersamanya, saya ingin membagikan cerita kehidupan saya. Melakukan banyak hal dari yang paling kecil sampai yang besar. Karena dengannya hari – hari saya akan terasa indah dan semua berjalan dengan mudah. Dengan Samsung Galaxy Edge saya akan mengajaknnya menjadi sahabat setia saya. Menemani saya dalam melangkah satu demi satu untuk melalui hidup saya dan menggapai mimpi – mimpi saya. Dengannya, saya akan menjelajahi dunia melalui aplikasi – aplikasinya yang akan membawa saya jauh ke tempat – tempat yang ingin saya tuju. Karena, bersama Sahabat Kecil saya, hanya dengan memainkan dengan anggunnya jemari – jemari saya di atas layar antiknya yang dilapisi oleh lapisan Corning Gorilla Glass 3 yang tahan terhadap goresan. Saya dapat keliling dunia dan menemukan hal – hal baru yang sebelumnya belum pernah saya temui Lalu menemukan banyaknya inspirasi – inspirasi indah di dunia kemudian memetiknya dan menyimpannya di aplikasi note. Yang tentunya akan membantu saya untuk mengembangkan tulisan saya untuk menjadikannya sebuah novel yang berkualitas, sebagaimana mimpi saya. Jadi, saya tidak perlu lagi membawa laptop yang besar. Cukup dengan Sahabat kecil saya ini, saya yakin dia akan menggenggam erat mimpi – mimpi saya dan akan membawanya terbang tinggi bahkan sampai ke langit ketujuh.
      Bukan hanya menerbangkan mimpi – mimpi saya. Sahabat ecilk saya ini, akan mengajak saya untuk selalu setia terhadap sahabat – sahabat saya yang lain. Setiap waktu yang ada dalam hidup saya, baik senang atau bahkan sedih pasti memiliki makna tersendiri. Maka dari itu saya inggin bisa mengabadikan moment – moment tersebut ke dalam gambar – gambar cantik dan hanya dengan Sahabat Kecil itulah saya dapat melakukannya. Karena, ia hadir dengan kamera 16 mpnya yang hampir menyerupai kamera Slr. Hanya dengan menjentikkan jemari saya diatas layar fantastisnya, saya dapat menangkap gambar – gambar nan mempesona. Dengan kamera nya yang hampir menyerupai kamera slr tadi dan juga kamera depan yang memiliki 3,27 megapixel. Saya dapat mengabadikan senyum – senyum saya lalu mengirimkannya dengan hasil yang luar biasa nyata dan natural. Sehingga seakan – akan meskipun jarak memisahkan saya dan mereka yang berjarak jauh dengan saya namun dengan kecanggihan kamera Sahabat Kecil saya ini, telah mengajak saya seakan – akan saya berada dekat dengan mereka.
     Selain kamera belakangnya yang begitu istimewa, saya juga akan menggunakan kamera depannya yang hadir dengan 3,27 mp yang berguna saat saya menggunakannya untuk Video Call. Membuat saya dapat berbincang – bincang dengan semua orang yang saya sayangi meskipun jarak memisahkan kami. Namun, kami dapat melepas rindu dan bersenda gurau layaknya dalam satu ruangan yang sama. Karena, ia menampilkan gambarnya dengan sangat jernih sejernih air yang mengalir.    
     Seorang sahabat, ia harus selalu ada di kala suka dan duka. Itu pulalah yang dilakukan oleh Sahabat Kecil kesayangan saya ini, bersamanya saya melalui masa – masa sulit dan menyenangkan dalam hidup. Ia seringkali menghibur saya dengan menyenandungkan lagu – lagu favourite saya dengan jernihnya membuat suasana hati saya selalu merasa baik. Ia juga menyuguhkan saya dengan pilihan – pilihan tontonan yang ia tampilkan dalam layar besarnya yang jernih, jelas dan mempesona. Dengan gambar – gambar yang terfokus dan terkesan nyata. Seakan – akan saya ikut berperan dalam film tersebut. Bersama Sahabat Kecil saya ini, hidup terasa lebih berwarna dan mudah. Saya ingin sekali berbagi kepadanya mengenai mimpi – mimpi saya lalu mengajaknya untuk bersama membantu saya. Saya ingin merekam, mengetik dan menggambarkannya di fiitur smart selectnya yang memiliki tingkat keresponsifan sangat tinggi. Dengan Sahabat Kecil saya ini, saya ingin mengajaknya melompat bersama saya untuk menggapai bintang impian saya sebagai seorang penulis. Setiap waktu dalam dunia yang saya lihat dari lensanya, kemudian akan saya nyatakan kembali dalam tulisan – tulisan indah yang akan menjadi sebuah novel. Tentu saja, dengan menggunakan fiture notenya yang tanpa harus takut dia meyakinkan saya bahwa ia akan menyimpan setiap inspirasi kehidupan tersebut di dalamnya. Sehingga ketika waktunya saya akan menemukannya kembali dan dapat langsung menyusunnya.
    Saya ingin selalu meminta bahkan memohon kepada sahabat kecil saya ini, untuk selalu melangkah bersama saya di setiap proses kehidupan saya. Proses yang selalu saya harapkan menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Saya ingin, sekali bisa memiliki keahlian dalam memainkan alat musik. Seperti piano dan gitar. Untung saja, karena koneksi internetnya yang cepat maka saya dapat belajar not – not angka dan chord gitar tersebut dengan menjelajahi dunia internetnya yang secepat pesawat jet. Karena tentunya dilengkapi dengan konektivitas terbaik saat ini. Dengan yang didukung oleh LTE, NFC,Blutooth,GPS,Usb OTG, dan Infra Red. Layar melengkungnya yang merupakan trobosan baru di dunia smartphone, membuat lebih Handy tentu saja jika dibandingkan dengan Laptop. Saya dapat belajar memainkan alat musik kapanpun dan dimanapun nantinya. Sehingga saya akan lebih cepat menjadi ahli.
     Tidak hanya itu banyak hal – hal lain yang ingin sekali saya pelajari di dunia ini. Salah satunya mempelajari berbagai macam bahasa. Seperti memperlancar bahasa jerman saya atau belajar bahasa korea.Berkeling dunia sungguhan adalah hal yang sangat luar biasa dan ingin sekali saya lakukan. Kendala bahasapun terkadang tak bisa dipungkiri datang menghampiri. Namun, bersama Sahabat Kecil saya, dia bisa menjadi kamus berjalan bagi saya, dengan tentunya mendownload aplikasi kamusnya. Jadi, beribu – ribu orang asing yang datangpun dapat saya atasi.
     Selain itu, tak lupa saya juga dapat berkreasi dengan rekam video perjalanan saya layaknya film dokumenter. Mengingat resolusi yang kecanggihan kameranya tadi serta ditambah lagi memiliki beragam fitur canggih lainnya seperti optical image stabilization (OIS), autofocus,LED Flash, Dual Shot, Simultanneous,Touch Focus, face and smile detection, panorama, HDR dan dengan begitu sudah bisa merekam video dengan resolusi 2160p dengan kecepatan 30fps dengan fitur optical stabilization untuk meningkatkan kualitas video. Bahkan, dengan video tersebut saya bisa beralih untuk membuat novel mengenai traveling?

                                                             
     Terbayang sudah dibenak saya, Sungguh menyenangkan sekali rasanya memiliki Sahabat Kecil saya ini, dia bukan hanya akan membantu saya mengejar mimpi – mimpi terpendam saya tetapi juga membantu saya menemukan mimpi – mimpi lainnya. Sehingga kelak bersamanya saya akan selangkah lebih maju dan menjadi New Me sebagai manusia yang lebih bermanfaat bagi sesama.

Jumat, 02 Januari 2015

Cerpen : Kemarau di Hati Mika

                      Kemarau di hati Mika

      Aku memandang tetes demi tetes air yang terus turun dari langit. Membentuk hujan yang deras. Menempelkan jemari – jemariku di kaca jendela kamarku. Langit begitu mendung dan sepi. Seakan ikut bersedih sepertiku. Mewakilkan tangisanku yang tak kunjung terurai setelah kepergian semua orang yang kucintai.
       Aku benci, harus menyambut tahun baru dengan rasa kehilangan yang mendalam. Dalam kesepian yang menjalar.
       Waktu telah menunjukkan pukul 06.00. hari mulai petang dan  semakin gelap. Aku memeluk kedua lututku, kemudian membenamkan kepalaku diantara keduanya. Bukan untuk menangis, justru aku belum pernah meneteskan air mataku sejak semua orang pergi meninggalkanku.
       Suara pintu yang diketuk, menyadarkanku.
   “ Non, non Mika?” suara bibi yang memanggil dari balik pintu kamarku. Aku membukakan pintu.
     Aku berjalan ke arah ruang tengah dan mendapati Tante Jane sedang duduk disana bersama suaminya om dimas.
  “ Hai Mika sayang, “ seru Tante Jane sambil berlari ke arahku lalu memelukku erat.
  Aku berusaha membalas pelukannya. Kemudian Tante Jane mengajakku duduk diantaranya dan om dimas.
  “ Mika, mulai sekarang kita yang akan ngerawat kamu yah.” Seru Om Dimas sambil membelai kepalaku lembut. Aku tersenyum menatap mereka berdua.
   Aku sungguh merasa beruntung masih mempunyai Tante dan Om yang sangat baik seperti mereka. Ntah aku harus berlindung atau dijaga oleh siapa kalau tidak ada mereka.
   Tiba – tiba bibi datang lagi dan mengatakan sesuatu kepada kami. Aku mengganggukkan kepala menjawabnya.
                                   
                                           (.....)
   Aku duduk di bangku yang tinggi sambil mengayun – ngayunkan kakiku. Sebuah ice cream ada di genggaman tanganku, namun mataku tengah menatap kosong ntah kemana.
   “ Kok Ice Creamya di diemin ajah?” tanya Ray yang datang drai belakangku. “ Udah ga suka Ice Cream lagi?” tanyanya. Sambil memandangku.
   Aku tersenyum mendengarnya.
  “ Dulu waktu kita masih kecil, kamu suka banget sama Ice Cream,” seru Ray mengingatkanku, pada masa kecilku bersamanya. 10 tahun yang lalu. “ Aku ingat, kamu suka semua rasa Ice Cream, jadi kamu gak suka kalau disuruh harus memiliki apa rasa Ice cream favourite kamu, pasti Ice cream yang kamu pesan tumpukan Ice Cream Vanila, Strawberry dan Coklat.”
  Aku tertawa kecil mendengarnya. “ Itu, udah lama banget yah.” Ujarku.
  “ Mau main ke pasar malam? Kita naik arena disana?” tanyanya.
  “ Akhir – akhir ini, aku lagi gak suka keramaian.” Jawabku.

 “ Umur kita sekarang berapa sih?” tanya Ray tiba – tiba.
 “ 17” jawabku.
 “ Kira – kira kalau akau ajak kamu main di Taman Bermain masih mau gak yahhh?” serunya.
 “ Taman, bermain?” ulangku sekali lagi, balik bertanya.
 Ray kemudian menatapku, seperti mengitrogasiku. Ia langsung menarik tanganku.
 “ Rayyy!!!” seruku. Karena, ia mulai mengajakku berlari. Kami tiba disebuah tama bermain anak – anak yang sepi dan hanya diterangi oleh lampu jalan yang kelabu.
 Aku memandang Ray aneh. Ia kemudian berlari menaiki sebuah jalan berjaring menuju perosotan. “ Ayoo Mik” serunya meneriakiku.
  “ Kamu serius?” Tanyaku sambil mengernyitkan dahi, “ Ray?”
  Ray meluncur dari perosatan, ketika ia sampai di bawah ia tertawa – tetawa sendiri. “ Ayolaahh Mika, ini menyenangkan” ajaknya sambil menarik lenganku dan mengajakku naik perosotan.
  Ray meluncur lebih dahulu, lalu aku menyusulnya. Saat aku sampai di bawah perosotan yang cukup tinggi apalagi untuk ukuran anak – anak itu, aku terkaget – kaget. Ray melihat ekspresiku yang sepertinya saat itu terlihat amat konyol, karena setelah itu ia menertawakanku puas sekali.
  “ Ray??’ teriaakku sebal. Sebelum aku sempat megejarnya ia sudah berlari, sehingga kami berkejaran – kejaran di taman itu. Menaiki perosotan, main jungkat – jungkit, memanjat dan permainan anak – anak di taman lainnya. Untuk sesat, aku merasa aku memang masih kecil. Bebas, tanpa ada beban dan tanggung jawab dan begitu menikmati hidup.
  “ Hhhhh,,, aku capek” seru Ray, sambil merebahkan dirinya di rerumputan, menelentangkan tubuh dan melipat kedua lengannya dan menaruhnya di bawa kepalanya,
 “ Yaampun, masa gitu saja sudah capek?” Ledekku. Diikuti tawaan ringan. Ia membalasnya dengan senyuman namun matanya fokus ke arah bintang di angkasa yang bersinar indah.
  Aku ikut merebahkan diri di rerumputan itu, melakukan gerakan yag sama dengan Ray.
  “ Bintangnya cantik yahh?” seruku.
“ Kamu pernah berfikir gak, kenapa bintang bisa ada disana” ujar Ray sambil menunjuk langit.
  “ Teori Nebula, teori pasang surut dan sebagainya. Aku rasa mungkin salah satu dari beberapa teori pembentukan tata surya itu ada benarnya.” Jawabku.
  “hahahha” Ray tertawa mendengarnya.
  “ Kok ketawa sihh? Benar kan?” tanyaku menoleh kearahnya seraya menghakimi.
  “ Iyah, Mika kamu gak salah. Tapi sekali  - kali jangan serius terus dong.” Ucapnya.
  “ Okay, kalo gitu memang apa teori kamu?” tanyaku balik.
  “ Kalau kata cerita – cerita jaman dahulu kala, bintang itu robekan kecil di langit dari surga” Ujar Ray, memulai ceritanya denga serius.
  Aku mendengarkannya penasaran.
“ Orang – orang yang sudah berada disana” serunya sambil menunjuk ke arah langit lagi. Aku ikut memeperhatikan arah tangannya menunjuk.
 “ Mereka ingin melihat semua orang yang disayanginya dan mengamati mereka yang masih hidup di bumi.” Jelas Ray.
   Aku memandangi bintang yang tampak paling bersinar bagiku. Membayangkan Ayah, Bunda dan Ka Jessie sedang melihatku dari sana, aku tersenyum.
  Ray menggenggam tanganku. Ia membalikan badannya lalu menoleh ke arahku. “ Ingat, yahh aku akan selalu ada disini jadi sahabat terbaik kamu.” Ucapnya serius.
  Aku mengangguk serius. “ Makasih yah Ray” seruku. Tepat saat itu, suara petasan terdengar meriah di antara bintang dan gelapnya malam. Diiringi suara terompet yang memengkakkan telinga. Aku menutup telingaku mendengarnya. Sungguh, akhir – akhir keramaian memang begitu menggangguku.
  Sejak, semua keluargaku pergi meninggalkanku dalam sebuah kecelakaan pesawat tragis yang belum ditemukan jejak benda bersayap buatan manusia itu. Sejak sebulan hilang contactnya. Hampir semua orang sudah kehilangan harapan kalau keluarga mereka pasti sudah tewas.
   Aku memejamkan mataku dan tanpa kusadari aku tertidur. Hingga sebuah suara membangukanku dan menggucang – guncangkan tubuhku.
  “ Mikaaa? Mikaylaa!!” suara Tante Jane mulai terdengar jelas di telingaku. “ Bangun! Kenapa kamu tidur disini?” tanyanya. “kamu tuh bikin tante panik ajah, pergi ke taman, malam – malam. Tante nyariin kamu tahu gak.”
  “ Maaf, maaf tante. Mika ketiduran.” Ujarku. “ Aku lagi main samaa....” aku menolehkan kepalaku ke tempat tadi Ray juga tertidur disampingku.
  “ Sama siapa?” Tanya Tante. Aku menatap Tante bingung tanpa bersuara.
  “ Ray?” Tante melambaikan tangannya di depan wajahku. Melihatku melamun saja.
 Tanpa menjawab pertanyaan sebelumya, aku mengajukan pertanyaan lain lagi. “ Sekarang jam berapa Tante?” tanyaku.
  “ Jam 2 subuh” Jawab Tante Jane. “ Ayoo kita pulang “ Tante Jane menarik lenganku.
  Aku menurut mesikipun hatiku masih dilanda kebingungan. Dalam hati aku bertanya – tanya Apakah tadi aku bermimpi? Tetapi kenapa aku disini? Terus dimana Ray? Beribu pertanyaan bernaum di otakku.

                                      (......)
    Cahaya matahari yang masuk diantara celah – celah tirai kamarku, menerpa wajahku. Mataku merasa sangat silau. Aku mecoba meraih sebuah jam wecker yang ada di meja samping tempat tidurku.
    Jam menunjukkan pukul 07.00. pagi. Aku bangun dari tempat tidurku. Setelah memebersihkan diri sedikit. Aku berlari ke bawah, ke ruang makan. Tante Jane dan Om Dimas sudah duduk disana. Mereka memandangku dengan wajah yang lebih cerah hari ini.
   “ Pagi Mikaa, “ seru Om Dimas.
   “ Pagi Tante, Om....” seruku mejawab dengan senyuman manis.
   “ Hari ini, kita harus ke bandara.” Ujar Tante Jane.
   Ntah kenapa tiba – tiba jantungku langsung berdetak kencang.
   “ Mika, “ ujar Tante Jane. Ia kemudian melirik ke arah Om Dimas.
  “ Pesawatnya sudah ditemukan Mika.” Jawab Tante Jane dengan wajah yang tenang.
   Namun aku merasa wajahku mulai pucat. Ntah apa ini apa namanya, apakah aku mulai merasakan kesedihan? Ntah setelah mendengar semua yang terjadi secara lebih jelas aku akan menangis? Aku sendiri bingung dengan apa yang ada di dalam hatiku. Rasanya disana seperti ada lubang yang semakin lama semakin besar. Terlebih hari ini, dadaku amat sesak.
   “ Te...rrr...rus?” jawabku dengan suara yang bergemetar.
   Tante Jane menggapai tanganku yang berada di meja makan, mengelusnya pelan. Membuat aku semaki kesulitan bernafas. Aku tidak mengerti, padahal sebelumnya, aku tidak merasakan apa – apa selama sebulan ini keuarga korban yang lain sudah menangisi kepergian keluarganya. Bahkan aku melihat sendiri mereka menangis sampai terisak. Namun, saat itu hatiku hanya kosong dan hampa. Tetapi, aku sama sekali tak meneteskan air mata. Tak bisa. Aku juga tidak tahu kenapa. Bukan karena aku tidak menyayangi kedua orang tuaku dan kakaku. Justru, aku begitu menyayanginya. Aku hanya bingung menghadapinya. Menghadapi kenyataan yang datang mendadak di hadapanku.
   Aku menunggu setiap kata yang keluar dari mulut Tante. Ia memandangku. Aku tidak bisa membaca ekspresi apa yang ada di wajahnya. Ia tidak terlihat kaget atau rapuh. Kemudian ia hanya mengeluarkan secercah senyum dibibirnya. Yang membuatku bingung.
“ Mika, Ayah, Bunda dan Ka Jessie baik – baik saja” Jelas Tante Jane akhirnya.
   Aku memandang mereka setengah tak percaya dengan pendengaranku. Namun, aku tak bisa menyembunyikan senyum bahagia yang terpancar di wajahku.
                                        (.....)
   Aku merebahkan tubuhku di atas pangkuan kak Jessie, di Taman Bermain. Menatap langit malam yang dihiasi bintang. Kak Jessie membelai rambutku ringan.
   “ Ray benar kak....” Ujarku tiba – tiba. “ Ray, memang udah gak ada disini. Tetapi ia selalu ada disana.” Ujarku menunjuk bintang yang cahayanya paling menyita perhatianku.
   “ Ray juga ikut bahagia kalau ngeliat kamu bahagia.” Ujar Kak Jessie.
   “ Jadi, waktu Ray cerita soal mitos itu sama aku, bukan hanya karena ia ingin menghibur aku.” Ujarku.” Tapi karena Ray tahu, usianya mungkin udah gak lama lagi.” Aku bangun dari baringanku dan duduk di samping Kak Jessie memandangnya serius.
   “ Mika, Ray pergi dalam kedamaian.. ia juga meninggalka sejuta kenangan dan kebahagiaan untuk sahabatnya yang paling berharga meski hanya dalam waktu 6 jam. Meskipun pada akhirnya penyakit Syndrom Gulliallin berhasil merenggutnya. Setidaknya ia sudah pernah mencoba untuk melawannya.” Ujar Kak Jessie.
   “ Mika tahu. Malam itu, Ray ninggalin Mika. Karena, ia gak mau lihat mika sedih. Makannya ia pergi diam – diam.” Ujarku.
   Kak Jessie memandangku, aku tahu pandangan itu, ia sedang menyembunyikan air matanya, tapi ia tahu adiknya sudah lebih tegar.
   “ Kak, Raya akan selalu jadi sahabat terbaik untuk Mikayla.” Seruku sambil bersandar di pelukkan Kak Jessie.
     Ketika hari kepergian Raya, aku tahu. Aku tidak pernah menangis.
     Seseorang pernah berkata, aneh kelihatanya menafsirkan luka akan kehilangan tanpa air mata. Tetapi yang aku tahu, tak semua kehilangan harus di tafsirkan dengan air mata. Aku kehilangan, tetapi aku ikhlas. Karena mungkin memang seperti itu seharusnya takdir berjalan.
     Bagiku, hidup bersama luka adalah bagian dari cerita kehidupan.
                                         TAMAT

Senin, 13 Oktober 2014

Resensi Novel : Mokingjay ( Serial terakhir dari Trilogi Novel The Hunger Games)

  Bagi yang sudah baca 2 novel sebelumnya, Pasti penasaran dong buat baca novel selanjutnya. Apalagi, buku yang merupakan seri terakhir dari Trilogi The Hunger Games ini, akan segera di launching film The Hunger Games: Mokingjay part 1 yang akan dihadirkan di penghujung akhir tahun 2014 ini. So, tidak ada salahnya sebelum nonton filmnya, baca dulu resensi! Check this out-à

Resensi Novel The Hunger Games: Mokingjay

Menelusuri Alur Cerita Fantasi dan Nilai Moral yang tersembunyi di dalamnya.


Judul Buku: Mokingjay
Penulis: Suzanne Collins
Alih Bahasa: Hetih Rusli
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama   
Cetakan: ke-17, 2014 
Tebal: 432 hlm, 20 cm

  Bagi para penyuka novel Fiksi, trilogi novel the Hunger Games ini, memang patut dijadikan salah satu pilihannya. Suzanne Collins telah mengajarkan bagaimana caranya menyuguhkan cerita fiction yang tidak membosankan. Alurnya yang tidak dapat di duga namun juga menegangkan.
  Setelah meraub keuntungan dari dua novel sebelumnya, Suzanne Collins menghadirkan kisah perjuangn terakhir dari Sang Pemberontak, Katniss Everdeen.
  Setelah Katniss berhasil 2 kali selamat dari pertarungan di arena Hunger Games, kini kenyataan lain telah nampak dihadapannya. Presiden Snow yang tadinya memerintahkan Katniss untuk meredam pemberontak di setiap distrik ketika Ia dan Peeta Mellark melakukan Tour Kemenangan, menghadapi kegagalan. Karena tanpa Katniss sadari ternyata ia semakin menyulutkan semngat pemberontakan di distrik – distrik. Terbukti, ketika ia mengetahui bahwa ternyata Distrik 13 masih ada dan disanalah ia sekarang. Para pemberontak telah menyiapkan pasukannya sedemikian rupa di distrik ini, untuk melawan Capitol. Termasuk Sang Juri Pertarungan Hunger Games yaitu Plutarch Heavensbee dengan Presidennya yaitu Presiden Alma Coint. Mereka meminta Katniss untuk menjadi pion dalam pemberontakan ini sebagai Mokingjay. Namun, dalam perjalanannya, Katniss meminta beberapa syarat untuk itu. Salah satunya, membebaskan hukuman kepada para pemenang yang menjadi tawanan Capitol. Termasuk pasangan pura – puranya, Peeta Mellark. Dalam usahanya, untuk berlatih melawan Capitol, dan bermain mengikuti Perintah President Coint, Katniss dihadapkan kepada berbagai pertimbangan terhadap kubu mana kah sebenarnya yang berpihak padanya. Terlebih Katniss mempunyai misi sendiri yang telah menjadi hasratnya. Yaitu, membunuh President Snow dengan tangannya sendiri.
   Suzanne Collins yang sejak tahun 1991 telah membuat cerita televisi untuk program anak – anak, mungkin itulah yang mengantarkannya memiliki berbagai imajinasi di kepalanya, sehingga ia juga dapat melahirkan berbagai karya novel fantasi remaja yang banyak diminati, salah satunya The Hunger Games ini.
   Selain dalam penyampaian alurnya, Suzanne Collins berhasil mengangkat 3 karakter utama secara kuat. Seperti Katniss Everdeen: Keras Kepala dan Pemberani. Lalu ada Peeta Mellark: Tulus dan Rela Berkorban. Kemudian ada Gale Hemsworth: Pemberani dan Pemarah. Tentu saja ketiga karakter ini mengingatkan kita pada serial Harry Potter sama – sama menceritakan kebimbangan antara 3 kisah cinta dalam yang memiliki 3 tokoh utama yang berkarakter pula atau yang serial Twilight. Tak bisa dipungkir, 3 karakter dalam seri The Hunger Games ini pun bukan tidak mungkin, dapat menyaingi ketenaran 3 karakter serial di atas.
   Menurut saya, buku ini leboh cocok ditampilkan untuk para remaja atau orang dewasa pun dapat menikmatinya, bagi penyuka cerita fantasi tentunya. Namun, untuk anak di bawah usia, sepertinya ini bukan cerita fantasi yang cocok. Karena cerita ini mengandung unsur kekerasan.
   Bagi para remaja atau orang dewasa, mungkin akan mengerti atau bahkan bisa mengambil apa sebenarnya nilai moral yang tersembunyi dibalik cerita fantasinya. Kalau kita telaah lagi, buku ini sebenarnya menyindir tentang kehidupan masa kini. Yang sebenarnya secara tidak langsung saling bunuh – membunuh. Dalam lain tentunya. Seperti dalam hal jabatan dalam pemerintah seperti yang terjadi saat ini.

    Hal yang dapat diambil kesimpulannya adalah, bunuh – membunuh, jatuh – menjatuhkan bukanlah sebuah jalan untuk mencapai kebahagiaan. Tidak ada yang seperti itu, meskipun alasannya adalah demi kepentingan rakyat. Itu bukan demi kepentingan rakyat, tetapi sebenarnya demi kepentingan Pemerintah dan orang yang memerintah saja. Seperti yang President Snow katakan kepada rakyatnya, dalam seri kedua novel ini, “ Ini semua demi Kekayaan dan Kejayaan Capitol” (Capitol: Pemerintahan President Snow.

Info: Part 1 nya akan tayang tahun ini tanggal 21 November 2014. Sedangkan bagian kedua “The Hunger Games: Mockingjay Part 2” akan tayang tahun depan, tanggal 20 November 2015.
Poster resmi perdana nya bisa Anda lihat dibawah ini :
Bisa juga dilhat thriller Filmnya disini ---> https://www.youtube.com/watch?v=C_Tsj_wTJkQ

Resensi Novel : Sepatu Dahlan



Judul Buku: Sepatu Dahlan
Penulis: Khrisna Pabichara
Penerbit: Noura Books (PT Mizan Publica)
Cetakan: XII, Maret 2014
Tebal: 369 halaman

     “Hidup, bagi orang miskin, harus dijalani apa adanya” begitu kata Dahlan Iskan. Kemudian lahirlah dari sana sebuah karya yang diberi judul “Sepatu Dahlan”.
    ‘ Sastra. adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya menggunakan bahasa sebagai mediumnya’ Itulah arti sastra menurut salah satu ahli sastra, Semi.
     Begitu pula seorang Khrisna Pabichara seorang sastrawan muda berbakat dan telah menerbitkan 13 novel lainnya, yang berhasil menyuguhkan karya tulis lewat novel ke 14nya dalam novel ini. Tak perlu banyak kiasan, majas ataupun kata – kata berkelok – kelok. Pemaparan yang sederhana namun ‘mengena’ telah mewakili betapa nikmatnya membaca buku ini.
    Disampaikan dalam bentuk plot sederhana pula, dimulai ketika seorang Dahlan Iskan hendak memulai operasi livernya pada tahun 2007 dan diikuti masa – masa pembiusannya yang kemudian Sang penulis sebutkan sebagai ’18 jam Kematian’ mengantarkan sosok Dahlan ke dalam masa kecilnya yang suram. Kemudian, di mulailah petualangan Dahlan kecil hidup di tengah kemiskinan namun tetap berjuang untuk terus bertahan hidup dan tetap memiliki mimpi.
     Pada dasarnya membaca sebuah novel yang di angkat dari kisah nyata,seringkali dianggap menarik. Berbeda dengan novel – novel fiksi yang menawarkan tokoh – tokoh imajinasi yang pada kenyataannya hanya berjalan di pikran Sang Penulis. Novel yang ditulis langsung dari kisah hidup seseorang biasanya akan terasa lebih hidup. Layaknya buku ini, seorang penulis sastra serius Khrisna Pabichara berhasil menarik para pembaca ke dalam dunia masa kecil dari seorang Menteri bernama Dahlan Iskan secara kronologis, dengan plot yang mengalir lembut, namun setiap detailnya mampu di rasakan sensasinya. Bukan kemamuannya lahir di tengah keluarga miskin.Namun, bukan karena itu lantas dahlan kecil menyerah, berbagai cara ia lakoni untuk mendapatkan impian terbesarnya saat itu: sepasang sepatu dan sebuah sepeda.
     Sang penulis yang merupakan penyuka prosa ini, telah menggiring pembaca memasuki alur cerita dan ikut merasakan betapa kesedihan sudah menjadi teman bagi Dahlan kecil dan kelaparan adalah sahabat setianya. Mengajak pembaca ikut berjalan di atas aspal panas, kadang kerikil, tanah, becek, lumpur dan mala petaka lainnya saat dahlan harus berjalan tanpa beralaskan apapun di kakinya sejauh berkilo – kilo meter dari rumah hingga sekolahnya dalam perjuangannya untuk mengais ilmu. Lalu kesedihan satu persatu datang menghampiri, ketika keinginannya untuk melanjutkan sekolah di SMP impiannya namun di tentang oleh bapaknya.Lalu Ibunya yang sakit lalu meninggal ketika Dahlan masih kelas 1 SMP, kakak perempuan tertuanya yang memutuskan untuk merantau ke seberang pulau, konflik dalam persahabatannya, hingga akhirnya perjuangannya mangais rezeki mengajar bermain bola voli mengantarkannya pada sepasang sepatu impiannya dan sebuah sepeda. Kemudian disaat ia dilanda kebingungan atas pesyaratan bersama gadis pujaannya yang mengharuskan Dahlan menjadi sarjana.
    Khrisna berhasil memaparkan sebuah kisah nyata secara sempurna melalui kata – kata yang menghinotis namun tetap lugas dan tegas. Menampilkan kisahnya secara teratur dan sesuai namun tak mengindahkan unsur – unsur sastra yang tetap menjadi bumbu – bumbu manis tersendiri. Tanpa unsur membosankan dan sedemikian rupa tetap menunjukan alur naik turunnya yang mengayun – ngayun seakan ingin cepat – cepat menamatkan bukunya. Sedangkan karakter tokohnya disampaikan dengan ketelitian dan kuat. Seperti tokoh Kadir yang tak banyak bicara dan perasa ( akibat masa lalu tentang keluarganya), tokoh Imran yang gigih berlatih dan jahil atau tokoh Komariyah yang memiliki hobi bermain, permainan laki – laki.
    Memang bagi seorang sastrwan muda layaknya Khrisna Pabichara yang memang sebelumnya telah melahirkan karya – karya bermutu lainnya, rasanya tidak janggal bahwa ia bisa begitu apik menyampaikan unsur kesusastraan,plot,karakter tokoh yang kuat secara sederhana dan apa adanya namun tetap berkualitas.
   Namun juga tetap meninggalkan bekas inspiratif dan membuka mata,pikiran dan hati siapapun yang membacanya. Dahlan kecil, yang mula – mulanya pernah nekat mencuri tebu demi mengisi perut keroncongan adiknya, telah belajar bahwa sebagai manusia boleh saja kita miskin harta, tetapi jangan pernah miskin iman. Disinilah sang penulis menghadirkan nilai moral yang sekaligus dibungkus oleh nilai religius yang pesan gandanya tersebut dapat di petik oleh pembaca. Maka secara tak langsung penulis telah berhasil menyampaikan visinya dalam buku tersebut: Memberikan pembelajaran moral berupa kehormatan untuk mendapatkan harta.

    Sangat tepat disampaikan di tengah zaman yang sudah menjadi tempat menggilanya para Koruptor. Teguran manis juga disediakan oleh Khrisna tentang bagaimana Dahlan kecil tetap bersyukur menikmati kehidupannya. Seperti yang ia katakan “ Bagi kami kemiskinan adalah kesenangan.”

Selasa, 29 Juli 2014

Sejarah Negeri Palestina



    Ketika sebagian orang sibuk tidur siang, untuk mempersiapkan fifiknya ketika malam tiba. Agar dengan kuatnya mereka bisa menoton tim sepak bola favouritenya. Atau untuk benar – benar mengikuti taktik dan cara yang dipakai oleh para pemain sepak bola dari setiap tim yang telah terpilih dalam ajang piala dunia 2014 itu. Yang tahun ini di adakan di Brazil.
   Penduduk islam di Palestin sibuk untuk tetap bisa terjaga, di rumahnya, mewaspadai serangan – demi serangan yang datang bergantian tak kenal ampun sedikitpun. Ketika , di brazil atau bahkan hampir seluruh dunia bertepuk tangan dan tertawa bahagia karena pemain favouritenya berhasil memasukkan bola ke gawang lawan, penduduk palestine sibuk menangis, karena ada yang berhasil measuki gawang wilayah mereka, dengan pluru – peluru sialan, yang menyita orang – orang yang mereka sayang.

   Lalu sebagian lagi dengan khusunya berlomba – lomba dalam kebaikan di bulan suci yang penuh berkah ini dengan tertib dan lancar. Yaitu, bulan Ramadhan. Setiap keluarga sibuk, membei dan menyiapkan makanan untuk sahur dan apa menu makanan untuk berbuka. Keluar masuk rumah – masjid untuk pergi taraweh dengan tenang dan damai. Tanpa harus celengak – celinguk melihata sana – sini apakah akan ada bala tentara yang mungkin kapan saja bisa menculik mereka di Palestina, khususnya jalur gaza.

   Beratus – ratus nyawa tak berdosa, telah hilang di telan ke kejian tak ber prikemanusiaan, bermili liter darah telah tercecer tak terelakan, beribu – ribu hati telah tertusuk amat dalam, karena harus kehilangan orang yang mereka cinta.
   Sebagian besar adalah kaum anak – anak dan para wanita. Hati berusaha ikhlas namun pada dasarnya mereka hanya manusia pada umumnya.
  Hingga rasa kebal telah menyelimuti hati mereka. Manusia tak perlu di takuti hanya Allah yang perlu di takuti. Hati tulus dan masih murni tergambar dari para anak –anak yang dengan entengnya, ,menghampiri tentara musuh tak peduli bahwa sebenernya mereka telah menginjak granat karena mendekati musuh dan memarahi tentara iti, dengan polos dan membuat siapapun yang melihat merasa pilu.
   Ketika di Indonesia sibuk membangga – banggakan capres pilihannya, katanya berdemokratis tapi malah menebar perdebatan yang kian mengkritis. Merelakan perpisahan dengan orang tersayang, hanya karena perbedaan berpendapat. Dengan mudahnya.




    Namun, segala upaya dari negara – negara yang peduli  dengan perdamian dunia telah dilayangkan. Namun tidak mendarat pada kedamain tapi kian tinggi melayang tak dapat didaratkan. Lalu kita bertanya, untuk apa negri yang hampir semuanya telah luluh lantah itu diperjuangkan lagi?
   Dengan tulusnya mereka menjawab, lalu kalau bukan kita? Siapa lagi yang akan menjaga salah satu rumah terbesar umat islam Masjid Al – Aqsha? Tanah waaqaf umat islam. Mereka merelakan dirinya, untuk mewakilkan seluruh umat islam dunia. Sungguh, bagi mata manusia biasa seperti kita, hanya surga lah yang harusnya jadi balasan bagi mereka.
   Suatu ketika, saya belajar sejarah untuk kelas 12 SMA. Dari situlah saya mengerti apa sebenarnya dasar masalah yang membuat perang yang sudah melanggar aturan perang yang ada ini bisa terjadi.
  Memang awalnya, tanah Palestin dahulu di tempati oleh para Yahudi. Namun, kemudian mereka pergi merantau meninggalakan negerinya akibat zaman ‘Ziaspora’ yaitu zaman dimana mereka pergi melarikan diri dari para bangsa barat yang mengejarnya. Bertahun – tahun telah terlewati, dan tanah mereka kosong dan tak ada yang menempati. Lalu kaum muslim datang, dan menempati daerha yang sudah sanagat lama tak berpenghuni itu. Orang – orang Arab itu menempati wilayah Palestina sudah 100 tahun lamanya. Hingga bangsa Yahudi kembali datng, dan berbondong  - bondong ke Palestina.
     Lalu terbentuklah gerakan Zionisme (gerakan untuk kembali ke tanah air Palestina) yang didirikan oleh Dr.Thedore Herzi. Hal ini lah yang menjadi sumber terjadinya konflik.
    Masalah pun kian pelik, ketika perang dunia 1. Bangsa inggris berusaha memikat hati kedua bangsa yaitu arab dan yahudi untuk membantunya melawan inggris. Untuk melawan turki. Inggris menjanjikan bahwa ia akan memrdekan seluruh bangsa arab termasuk arab Palestina. Jika berhasil mengalahkan turki. Sedangkan, inggris juga membuat BALFOUR DECLARATION ( 2 November 1917) yang isinya Inggris akan mendirikan a national home untuk bangsa Yahudi di Palestina. Deklarasi yang sangat merugikan bangsa Arab. Karena, dengan mudahnya mereka dapat mengembangkan politik Zionisme nya.
    Pada perang dunia kedua terjalin kerja sama antara Arab – Inggris – yahudi, namun, kaum israel lebih lengkap dalam persenjataan, sehingga kaum yahudi menerbitkan berbagai teror kepada bangsa Arab, yang akhirnya, PBB campur tangan. 29 november 1997, wilayah Palestina oleh PBB di bagi dua setengah bagian setiap bangsa Arab dan bangsa Yahudi.
15 Mei 1948, inggris mengakhiri mandatnya di Palestina. Lalu setelah inggris pergi, Yahudi mencanangkan negara merdeka bernama Israel dengan Presiden pertamanya Dr.Chaim Weizmann yang mendapat dukungan dari Amerika Serikat.
    Berdirinya negara ini, tentunya menimbulkan berbagai pertentangan dari sesama negara Arab. Yang akhirnya mendirikan PLO (Organisasi Pembebasan Palestina) yang dipimpin oleh Yasser Arafat dan akhirnya terjadi kesepakatan di Oslo, Norwegia pada tahun 1993. Sehingga diserahkan kewilayahn atas wilaya Jerichi dan jalur Gaza kepada Palestina. Usah tersebut menjadika Yasser Arafat dan Yitzak Rabin perdana menteri Israel mendapatkan Nobel perdamaian.
   Namun, usaha israel yang anti Yitzak Rabin muncul, setekah terbunuhnya Perdana Menteri Israel tersebut, pada tahun 1995.
    Membuat diangkatnya Perdana Menteri baru yang anti bangsa arab. Sehingga agresi – agresi militer teruslah dicangkan, untuk menguasai seluruh wilayah Palestina. Perjanjian dengan PBB sudah tak dianggap dan dilupakan. Hingga sejak 2009, Israel meyerang jalur gaza yang menyebabkan tewasnya ribuan warga sipil. Hingga saat ini, kata damai terlihat jauh dari Palestina. (sumber sejarah: Lks sejarah untuk kelas 12 semester 1 dan 2 terbitan Celcius)

   Apakah hati sudah terlalu beku untuk dicairkan? Dan apakah mata sudah terlalu buta untuk diperlihatkan? Apakah yang dijanjikan kekuasaan telah menjajikan keabadian?
   Dan apakah keabadian adalah di dunia?

  Sungguh Tuhan mencintai setiap hambanya, dengan cara yang adil. Dan hanya ialah zat yang maha tahu. 

Senin, 14 Juli 2014

Tentang Mimpi (Part 2)

         Sebelumnya di part 1..

terngiang dikepala zevana bagaimana suara si cewe cerewet itu menggelitik telinganya melalui telepon seluler tadi siang seusai pulang sekolah.

Part 2:

"Hai gadis manja yang gak punya mata! eh salah. Gak punya telinga juga kali yahh?
Gw Aren,sohib kentalnya Shilla. Eh gw kasih tau yah, jd cwe tuh jangan so cantik! mentang2
lo tuh kapten Chearleader sekolah kita. Lo tuh dibanding Shilla ga ada apa - apanya! Embe sama kuda.. Beda!!
Shilla itu jauh lebih pinter Lo! dan bedanya tuh jauhh banget 1 - 1000!
dan Gw peringatin lo gak usah deket - deket Gabriel! gabriel itu cuma punya Shilla! dia itu deketin cuma gara - gara 
kelompok mulok.Diakan paling gak suka kalau disuruh observasi model. Makannya dia manfaatin lo! Minggat lo sana dari kehidupan shilla dan Gabriel! urusin tuh keluarga lo yang udah di ujung taduk! bener2 ancur!
Daaaah!!.....Jelekk...!

klik.....tut..tut...

Sumpah sebel banget sama cewe yang gak tau adat dan tata krama itu. Telepon gak pake salam, ngomong gak pake titik koma.
Sepertinya Zevanna sudah benar - benar naik pitam. Dan koran - koran dirumahlah yang jadi saksi bisunya kalau darahnya sedang
mendidih.

"Bunda Zeva boleh keluar sebentar?"
"Mau kemana sayang?"
"Cari cokelat. Zeva lagi pingin banget makan cokelat."
"Iyah, jangan lama - lama yahh. Cuma cari cokelat ajahkan?"
"Sama cari angin, Bunda. Ngak tau deh tuh nyari dimana. Angin yang udah dibungkus rapi trus dikasih pita warna pink.
  Zeva gak akan pulang sampai nemu angin kayak gitu.

"Mulai deh, anak Bunda yang satu ini ngaco. Lagi ada maslah sayang?"

Zevanna menggeleng.
Namun seakan Bunda mengerti keadaan anaknya.
Dia mengizinkan anaknya pulang.

                                                                            (...)

      Bunda memang orang yang palin peka kepadaku. Pikir Zeva dalam hati, ketika berjalan menuju toko cokelat.
 Tidak seperti ayah?? ah kenapa sosok laki - laki itu muncul kembali dipikiranaku? dan kenapa Ozy lebih memilihnya, Ayah? dibandingkan Bunda? aku tidak mau membenci adikku sendiri, Ozy. Tapi semuanya sudah terlanjut. Ucap Zeva dalam hati. Pahit rasanya.

Itulah yang menyebabkan hubungan Ozy dan Zevanna tidak sedekat dulu lagi.
Orang tua mereka yang sudah pisah rumah. Dan kini? mungkin dalam tahap perceraian.
Walau mereka masih tinggal dalam satu kota. Tapi keluarga mereka sudah diujung tanduk. Ancur!!
Seperti kata si cewe cerewet Aren tadi.

                                                                           (...)
  Gerimis mempercepat langkah Ozy. Ia terpaksa menerobos tirai air itu. Meski membutanya basah, Namun karena cuaca tidak kunjung menunjukan tanda - tanda akan menjadi cerah. Tapi ayahnya dirumah sudah menyuruhnya untuk pulang cepat. Sesampainya dirumah, dia benar - benar basah kuyup. Dan Ayah membukakan pintu.

"Ozyyy!!!!!!!! kamu ko basah - basahan begini!"
"Bukannya Ayah? yang nyuruh Ozy pulang cepat?"
"Iyah, tapi tunggu sampai hujannya reda dulu." jelas ayahnya Ozy sambil memberikan handuk kepada Ozy.
" Yawudah, maafin Ozy yah Ayah. Udah bikin Ozy khawatir." Ujar ozy merasa bersalah menatap ayahnya yang sedang menghandukinya.
"Yasudah nak, tidak apa - apa. Lebih baik kamu istirahat dulu sana."
Ozy mengangguk, lalu berlari keatas menuju kamarnya.

                                                                              (...)
     Ozy melepas ranselnya. Lalu melemparnya ke sembarang tempat.
Setelah itu iyah menghempaskan tubuhnya diata ranjang empuknya. Terlintas dipikirannya sesosok gadi yang ia kenal di toko angin .... eh toko cokelat tadi. gadis itu, Zevanna kakanya. Yang dulu selalu menemaninya mengerjakan PR, bersenda gurau,Bermain pokoknya semua aktivitasnya.

Tiba - tiba Ozy terbawa ke masa lalu...
saat kedua orang tuannya masih tinggal serumah dulu. Dia merindukan saat - saat itu. Dia merindukan Bunda dan dia merindukan Ka Zeva.
Dia ingat tadi pagi ka Zeva ikut tertawa karena leluconnya di Bus. Dia merindukan tawa kakanya itu. Tawa yang selau ia bilang seperti Nenek lampir. Dan Ka Zeva biasanya akn memukulnya dengan koran kesukaan yang dia sedang baca. Ozy tertawa pedih mengingat itu.
Dan ia mulai menyesali kata - kata yang terkhir kali ia ucapkan pada Bundanya. Kata - kata yang membuat Bunda sakit hati, dan Ka Zeva benci padanya. Dan membuatnya Harus tinggal bersama Ayah. Ingin rasanya ia berkata bahwa kata - kat yang terdapat dalam surat itu tidak ditunjukan untuk Bunda. Karna sebnenarnya dia tidak membela ayah, maupun Ibu, bagi dia ini semua hanya kesalah pahaman. Namun semunya percuma, Ozy tidak punya keberanian untuk itu.

" Ya Allah kenapa semuanya harus seperti ini?" Ucapnya pahit. "Aku mau kehidupanku yang dulu."

Tanpa ia sadari air matanya mulai menggenang dipelupuk matanya, dan akhirnya jatuh membasahi pipinya. Dia berusaha menghentikan tangisnya, namun tidak bisa. Karena kini ia sangat menyesal, benar - benar menyesal.


                                                                              (...)
Pukul 12 siang lewat sekian menit. Panas terik memayungi kota jakarta seperti biasa. Matahari sepertinya persis diatas kepala. Sivia merapikan mejanya. Mengumpulkan buku - buku yang berserakan di mejanya. Semua harus dimasukan kedalam tasnya. Jangan sampai ada yang tertinggal sebab, bila sampai ada yang tertinggal, tidak da harapan untuk menemukannya kembali.

"Rio..." Bisik Zahra yang berada disebelah Via.
Mau tak mau perhatian Via beralih. Perlahan - lahan ia memutar kepalanya, persis ketika Zahra menoleh kearah pintu .

Dan....

Bersambung....

Selesia sudah Part 2..
oh ya maaf buat Lia Shillaa belum muncul disini gak tau tuh kemana?? lagi ke pasr kali!! hahahha.. Kidding..nanti dia muncul ko di part 3: Zeva VS Shilla.... 
tunggu yahhh!!

Kritik dan saran selalu dinanti..
Thanks..

"Cheers"
-Alsa-








Tentang Mimpi (cerbung IC) - Part 1



Cahaya matahari pagi menerpa wajah seorang gadis manis yang sedang tertidur. dia terbangun karnanya.
"Auu!Auu!silau!!" seru sivia sambil mencoba menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Bangun via, sudah jam berapa ini?? nanti Bus sekolah keburu datang sayang!" seru ibunya sambil mebuka korden kamar via semakin besar.
"iyah - iyah mah, via bangun." ujarnyanya sambil beranjak dari tempat tidur dan langsung masuk kamar mandi.
"cepat mandinya yah sayang, yang lain sudah menunggu dibawah untuk sarapan bersama!" celoteh ibunya via lagi.

Namun Sivia tidak menaggapi apa" kali ini.


                                                                                    (....)


 Bus pagi menuju SMP Sinar Harapan bertolak pukul setengah tujuh. Seorang remaja laki2 duduk dikursi paling depan bus tersebut.
dia terus memperhatikan jalan raya yang penuh dengan mobil yang berlalu - lalang.
"Zyy!!" seseorang memanggil namanya,namun remaja itu tidak mendengarnya.
"Ozyyyyy!!!" teriak temannya itu kesal.
Buyar semua lamunan Ozy.
"Apa?" serunya refleks. Karena kaget. " Hei!!ngomonngnya bisa pelan2 dikit ngk sehh?? sakit nih telinga gw!!!!"
" Aahhh!!ngomong pelan sama lo mana kedengeran??" seru Ray kesal. " Gw teriak karena lo g nyautin gw dari tadi!!"
" hehehheh... iyah2 dehh gw yang salah." ujar ozy mengalah pada sahabatnya ini. "Mau ngomong apa??"


"hmmm...gw mau ngomong kalo..." belum sempat ray meneruskan kalimatnya.Tiba2  pintu bus terbuka dan sivia masuk dia mengenakan pita biru dirambutnya yang diikat kuncir kuda. Sivia lalu ke bagian belakang, dan mengambil tempat disebelah zevanna sahabatnya.
Ray terpana seketika melihat wajah manis kaka kelasnya itu..
"Hallo??" seru Ozy, sambil mendekatkan wajahnya ke dekat wajah Ray, sehingga anak itu kaget dan hampir saja ia melompat dari kursinya.
"Huahahahahhah" seisi bus menoleh ke arah Ozy yang sedang menertawai Ray yang kini cemberut dengan tangan yang dilipat didadanya.
"Pisss!!Pisss!! jangan ngeliat gw aneh gitu donk!!" seru Ozy membela dirinya.
"Ga liat apa?? badut cemberut disebelah gw??" katanya sambil melihat kearah ray yang sekarang mukanya merah padam kayak tomat.



Sepi sebentar di bus. Namun tiba2 tawa zevanna meledak yang akhirnya diikuti seisi bus yang ikut tertawa.
Sivia berbisik di telinga zevanna..

"Ade lo lucu va!! selalu menghidupkan suasana! gw mau dehh punya ade kyak dia!" 

Zevanna sontak menghentikan tawanya tadi mendengar perkataan sivia tadi. Ya, dia baru ingat satu hal!
Baru kali ini setelah 2 tahun terakhir ini, dia tertwa terang - terangan didepan adenya karena leluconnya.
karena selama 2 tahun ini, hubungan mereka merenggang.
"Tapi sayang lo udah terlanjut benci sama dia! mending buat gw ajah!!" lanjut sivia lagi. Yang disambut cubitan keras Zevanna.
"auuu!!" Sivia meringis menahan sakit.

ahh udah dulu sakit2tannya...

Oke sekarang kita lihat keadaan rayy..
Semua anak menertawainya. Geram juga rasanya Ray. 
Namun lelucon ozy tersebut berhasil meredamnya.
Ray jadi tersenyum2 kecil.
karena tidak mungkin ray tertawa keras2, gengsi rasanya. Mengingat tawa anak2 itu tertuju padanya.

Disela pikirannya yang sedang menahan rasa geli.
Terlintas wajah seorang gadis manis.
Ada rasa bergetar dihatinya setiap kali bayangan wajah itu muncul kembali dibenaknya.


Ka Sivia?? ahh tidak mungkin!diakan kaka kelasku.
Gerutu ray dalam hati,merutuk dirinya yang sepertinya mempunyai rasa lebih kepada kaka kelasnya itu.


                                                                       (...)

Zevanna melempar koran yang baru saja dibacanya. Cewek satu ini memang senang sekali membaca koran. Baik itu berita domestik,ataupun luar Indonesia. Apalagi, kalo sudah memasuki masa S4 ( Sangat - sangat suntuk sekali). Pasti banyak media cetak yang jadi korban kekerasannya. Ya, setelah membaca, Zeva memiliki kebiasaan melempar bacaan tersebut jauh - jauh. Entah itu ke lantai, sofa,kasur, atau ke karpet.





"aduuh sayang, kalo Bunda masih membutuhkan koran2 itu bagaimana?? kan susah mencarinya!" omel Bunda lembut.
"Mending kamu lempar majalah atau komik kamu ajah tuhh! Koleksi kamu yang satu itukan udah numpuk dikamar kamu. Kamu lempar tuh kejalan biar diambil sama pemulung. jadi kamar kamu bersih deh dari barang2 gak berguna itu."

"aaaaaaahhh jangan Bunda! barang2 itukan banyak sejarahnya.. ada yang pemberian orang lain,beli sendiri sampe mencuri.."


Bunda mengerutkan kening mendengar kata terakhir anak sulungnya ini.

"heheheh.. becanda Bunda. Iyah deh, zeva minta maaf."



Aahhh dasar Bunda! gak tau apa anak sulungnya ini lagi suntuk,mangkel,sebel,emosi.  Ini semua gara - gara si cewe cerewet itu! Si biang keladi bin kerok itu! dia yang sudah menghancurkan moodku hari ini. gerutu zevanna dalam hati.



Terngiang dikepala Zevanna bagaimana suara si cewe cerewet itu menggelitik telingannya melalui ponselnya tadi siang seusai pulang sekolah.......
"Hai gadis manja yang ga punya mata!! Eh salah gak punya telinga juga kali yahh??..........Gw...